Babak Baru: Sastra Purwakarta Mau Gitu-gitu Aja?

Karya: Iqbal Amrullah Ibrahim | Kategori: Esai

SEBUL - "Anjing, komunitas naon deui ieu?" Itulah salah satu kalimat yang akan saya dengar kemudian hari, baik dari teman sendiri maupun komunitas lain yang tidak saya kenal sama sekali anggota-anggotanya.

Ngomong-ngomong soal dunia literasi, di Purwakarta ada satu nama yang selalu diucapkan oleh (segelintir) pegiat literasi: Farid Nyimpang. Nama itu selalu saja saya dengar ketika saya bertanya kepada rekan-rekan pegiat literasi di luar Purwakarta.

Pegiat literasi di Subang, Karawang, Bandung, bahkan Yogyakarta, selalu menyarankan saya untuk menemuinya kalau-kalau saya ingin memperdalami Sastra.

Hati berbisik untuk menemuinya. Namun, sebelum bertemu dengannya, tentu saya cari terlebih dahulu tentang sosoknya itu. BINGO! Saya menemukan bahwa Farid Nyimpang bukan berarti anak bernama Farid (30) hidupnya Menyimpang, melainkan ia adalah pendiri komunitas literasi yang bernama Nyimpang.com (entah kenapa dinamai nyimpang, saya tidak tahu!).

Setelah bertemu dengannya, rasa-rasanya hati ini berdegup kencang. Kami banyak berbincang mengenai ekosistem literasi di kota kami tinggal: Purwakarta.

Gagasan-gagasan yang ia muntahkan kepada saya, membuat saya tersadar bahwa di Purwakarta literasi tidak semenarik sate maranggi. Atas kesadaran itu, saya tertantang untuk membuat suatu perubahan yang menggelegar di dunia literasi. Edan!

Dalam tulisannya yang bertajuk Barangkali Soal Seni dan Purwakarta, Barangkali Nonsense Belaka, ia menuliskan keresahannya seperti ini: "Kota ini tak ramah penulis? Bisa jadi. Tak menghargai seniman? Mungkin sekali. Tapi apa kita sudah ramah dan menghargai sesama kita lebih dulu? Apa kita sudah layak mendapat ‘perhatian’ warga kota ini?"

Alih-alih mengutip keresahan Farid Nyimpang belaka, saya justru merasa paragraf itu merupakan Firman dari Sang Nabi Sastra Purwakarta. Silakan sebut saya LEBAY. Tapi, kalau kata rekannya yang bernama Majid, "Farid Musti DISEMBAH!"

Kembali kepada firmannya. Kalimat yang bertuliskan: Apa kita sudah ramah dan menghargai sesama kita? membuat saya ingin Jihad.

Kondisi Komunitas Literasi Purwakarta Saat Ini

Pegiat Literasi di Purwakarta, sangatlah pemilih. Kenapa saya katakan begitu, karena dari tahun ke tahun selalu ada saja komunitas yang silih bermunculan. Datang-Redup-Hilang-Datang lagi-Hilang lagi. Ketidakkonsistenan itu saya rasa terjadi karena setiap komunitas merasa dirinya ekslusif.

Sebelum membahas lebih jauh komunitas-komunitas ini sangatlah pemilih, saya akan catat terlebih dahulu komunitas-komunitas (yang katanya) literasi di Purwakarta sesuai dengan apa yang saya ketahui. Bila ada salah-salah ketik atau ada yang tidak tersebutkan, sila kalian komentari tulisan ini.

List Komunitas Literasi Purwakarta

1. Nyimpang,

2. Kopel,

3. Antariksa,

4. Asik Baca,

5. Bengkel Baca,

6. Lentera,

7. Cakrawala,

8. Warga Kota,

9. Sanggar Sastra Purwakarta,

10. Baca Setara, 

11. Sekolah Binaan Rusun,

12. Forum Diskusi Pelajar Purwakarta,

13. Serat Aksara, dan

14. Saya (SEBUL).

Dari keempat belas (atau bahkan lebih, karena tidak tertulis oleh saya) komunitas tersebut, berapa kali anda melihat mereka melakukan aktivitas bersama? Oh, tidak. Pertanyaan yang tepat mungkin seperti ini: Berapa kali anda menjumpai para komunitas tersebut saling hadir di acaranya masing-masing?

Saya bisa pastikan jawabannya: Jarang atau bahkan tidak pernah! Meskipun kalian rasa mereka pernah menghadiri acara satu-sama lainnya, coba telaah lebih baik siapa mereka!

Percaya atau tidak, disadari atau tidak, 14 nama komunitas yang saya tulis di atas adalah orang yang sama! Tidak percaya? Silakan anda hadiri satu persatu acara yang mereka buat.

Kalau mereka memang orang yang sama, lalu kenapa mereka tidak pernah menyelenggarakan agenda bersama?

Pertama, meskipun mereka adalah orang yang sama, mereka memiliki kepentingan yang berbeda. Termasuk juga saya.

Kedua, ada ego di antara mereka yang akhirnyatanpa disadarimembentuk sifat ekslusif.

Ketiga, anda bisa amati sendiri.

Setelah dipikir-pikir, dari keempat belas nama tersebut, mereka saya bagi menjadi dua bagian. Ini sama halnya seperti Manikebu dan Lekra. Edannn! Tapi saya tidak tahu mana yang Manikebu, mana yang Lekra. Yang saya tahu hanya, Golongan Farid (Nyimpang) dengan Golongan Hadi (Kopel).

Hadirnya Komunitas Seputar Budaya Literasi (SEBUL)

Mula-mula, saya suntuk di Organisasi. Kemudian memilih aktif di Komunitas Antariksa karena dinilai (hampir) menyamai Nyimpangdotcom dalam hal produktifitas kepenulisan. Saya memilih komunitas tersebut karena merasa tidak PD bila langsung bergabung dengan lingkungan Faridisme. Kenapa tidak terbesit untuk bergabung dengan lingkungan Hadisme? Jawabannya sudah tentu mereka tidak menulis.

Memang, takaran literasi tak hanya ditimbang dari tulis menulis saja. Akan tetapi, melalui tulisanlah saya bisa abadi. Anjayyyy!!

Kembali ke pembahasan. Ketika saya aktif di Antariksadotcom, saya banyak menjumpai komunitas-komunitas literasi dan berbincang dengan mereka. Dari setiap komunitas-komunitas itu saya melihat dan merasakan bahwa mereka selalu berjuang membaktikan dirinya untuk kemajuan Literasi di Purwakarta. Kecuali Kopel. Aktifitas Kopel yang saya lihat, tidak seperti namanya: Komunitas Pena dan Lensa. Mereka tidak memiliki aktifitas pena. Sebul ngawur! wong mereka juga menulis! Mana? Saya ingin baca karya mereka.

Melihat perjuangan mereka, saya meraksa (kala itu) komunitas antariksa pun harus ikut andil dalam gerakan ini (meskipun nafsi-nafsi) untuk budaya literasi yang masif. Namun, naas. Ternyata antariksa terlalu betah bermain-main di dalam lingkungannya sendiri dan tak ingin menampakan diri.

Setelah merasa tersakiti oleh komunitas galaksi itu, saya memutuskan melakukan jihad seorang diri. Melakukan lapak buku seorang diri, Membuka kelas menulis sendiri, Semuanya serba sendiri. Kegiatan saya itu sia-sia. Tak menghasilkan perubahan apa-apa!

Karena tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, saya mulai merenung mengevaluasi Dunia Literasi ini, dan BOOM! Saya melihat ada kekosongan di dalam gerakan literasi ini.

Melihat kekosongan itu, saya pun mulai berfikir untuk membentuk gerakan baru menggunakan nama saya sendiri.

Misi dan Eksistensi SEBUL

Sebul merupakan nama panggilan saya di tongkrongan. Arti dari kata Sebul banyak sekali. Kalian bisa sercing di Gugel. Akan tetapi, semua arti dari kata sebul menganduk makna negatif. Tak percaya? Silakan sercing! Karena bermakna negatif, maka saya mencari singkatan yang menarik. Dan ketemulah singkatan itu: Seputar Budaya Literasi.

Kenapa terfikirkan menggunakan nama landihan sendiri yang memiliki arti negatif?

Karena aku adalah Musa! Musa, dalam kisahnya, tidak pernah memberi gerakannya suatu nama. Dan orang-orang di waktu itu hanya mengetahui Agama Musa, bukan Agama Yahudi, Agama Nasrasi, Agama Islam.

Selain daripada itu (tidak memberi nama gerakan), Musa memiliki tugas meruntuhkan tahta Firaun. Dan saya, memiliki tugas untuk menggunjangkan singgasana Farid-Hadi. Dengan mengatasnamakan diri sendiri, sudah pasti para pengikut SEBUL bila berbuat dosa (dalam tulisannya) yang menanggung dosa tersebut ialah saya. Tak mengapa, karena yang saya inginkan adalah budaya tulis-menulis yang terus menyala.

Tugas mulia itu hadir dari pertapaanku yang menemukan kekosongan dalam gerakan literasi ini: Pudarnya Budaya Umpan Silang. Artinya, saat ini tidak ada sahut-sahutan karya antar komunitas yang ada. Hal itulah yang semestinya ada agar literasi ini menjadi hal yang menarik untuk disaksikan oleh warga Purwakarta itu sendiri.

Maka, dengan hadirnya Komunitas Sebul, ini menandakan babak baru akan dimulai!

Bagi kalian yang tidak ingin masuk ke dalam babak ini, lebih baik angkat kaki sekarang juga. Karena untuk mewujudkan masa keemasan literasi membutuhkan jiwa yang siap untuk berdarah-darah. Keringanan untuk Kopel mungkin kalian bisa mengikuti babak ini dengan kaya kalian sendiri: Film Pendek ala-ala. O, ya, lebih baik kalian ganti nama menjadi KOL (Komunitas pena Lensa). []

IKLAN

Tenang! Meski harganya murah, ini bukan kaos partai yang mudah belel.

Harga Normal : 180k
Harga Promo: 110k (+free stiker)
Nara Hubung Pemesanan: +62 831-9543-1562

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswa Sia Teh?